Dari Shald (http://www.indoforum.org/archive/index.php/t-7251.html)
Journey into the less explored universe of own mind is the most
exciting and challenging adventure that only a few dare to enjoy.
- Adi W. Gunawan
Kalimat pembuka di atas adalah hasil perenungan saya dalam proses
perjalanan ke dalam diri. Ternyata pikiran adalah suatu alam yang
begitu luas dan sangat jarang dijelajahi oleh kebanyakan orang.
Pikiran adalah the last frontier yang menyimpan begitu banyak misteri
dan keajaiban. Artikel berikut mengulas salah satu aspek yang
berhubungan dengan pikiran yaitu aspek perasaan atau emosi.
Minggu lalu saya mendapat telpon dari seorang kawan lama, sebut saja
Budi, yang berkeluh kesah mengenai keadaan dirinya. Banyak hal yang
ia keluhkan. Mulai dari kondisi keuangannya, keadaan kesehatannya,
keadaan keluarganya, lingkungan kerjanya dan masih banyak lagi.
"Saya stres berat nih!" keluhnya.
"Kamu berkata 'saya' stres berat. Bagian mana dari dirimu yang
mengalami stress?" tanya saya sambil mulai berusaha mengubah mental
state-nya.
"Maksudmu?" kawan saya balik bertanya dan mulai terlihat bingung.
"Tadi kamu bilang bahwa kamu stress berat. Saya ingin tahu bagian
mana dari dirimu yang mengalami stress berat itu?" tanya saya lagi.
"Ya benar. Saya lagi stres berat. Saya nggak ngerti pertanyaanmu,"
jawab Budi semakin bingung.
"Begini Bud. Manusia terdiri dari badan dan batin. Nah, bagian mana
dari dirimu yang merasakan stres? Badan? Pasti merasakan. Badanmu
pasti merasa tidak enak karena setiap bentuk emosi akan berakibat
pada tubuh fisik. Selain itu yang lebih penting lagi adalah kamu
perlu mengerti aspek batinmu. Batin manusia terdiri dari empat
komponen yaitu: pikiran, perasaan, ingatan, dan kesadaran," jawab
saya.
"Trus... kalau saya frustasi... bagian mana yang merasakan frustasi?
Bukankah yang merasakan frustasi adalah diri saya?" tanyanya dengan
penasaran.
Pembaca yang baik. Apa yang saya jelaskan berikut ini adalah
ringkasan dari hasil diskusi kita mengenai perasaan atau emosi.
Setiap kali kita merasa tidak enak, secara mental, maka yang terkena
sebenarnya adalah perasaan kita. Aspek perasaan inilah yang akan
menderita setiap kali kita merasakan emosi "negatif". Sengaja saya
memberikan tanda kutip karena sebenarnya semua emosi adalah baik atau
positip.
Lalu dari mana asalnya emosi? Apa hubungannya dengan kejadian yang
kita alami setiap hari?
Sebelum bicara mengenai emosi saya ingin mengulas sedikit mengenai
proses berpikir. Setiap kejadian yang kita alami bersifat netral.
Tidak ada kejadian yang baik ataupun buruk. Shakespeare dengan sangat
indah berkata, "There is nothing either good or bad, but thinking
makes it so". Jadi, baik atau buruknya suatu kejadian semata-mata
bergantung pada makna yang diberikan oleh pikiran kita.
Pemberian makna ini sebenarnya berlangsung sangat cepat dan terjadi
di pikiran bawah sadar. Contohnya? Misalnya anda sedang mengendarai
mobil dengan santai dan tiba-tiba sebuah mikrolet menyalip anda
dengan cepat dan langsung berhenti mendadak di depan anda. Anda
sangat kaget dan untung masih sempat menginjak rem sehingga tidak
sampai menabrak mikrolet itu. Bagaimana reaksi anda? Pada umumnya
orang akan langsung marah, memaki, atau mengumpat si sopir mikrolet.
Ceritanya akan lain bila ternyata anda baru menang hadiah utama,
sebesar Rp. 1 Milyar, dari suatu bank. Saat itu hati anda sedang
gembira. Dan saat anda disalip mikrolet, anda akan berkata, "Kasihan
ya sopir ini. Rupanya lagi ngejar setoran. Maklum ekonomi lagi sulit.
Ada baiknya saya menyumbangkan sedikit rejeki saya buat sopir malang
ini." Anda kok tidak marah?
Nah, makna yang kita berikan, dari setiap kejadian yang kita alami,
selanjutnya akan mencetus/men-trigger emosi yang ada di pikiran bawah
sadar. Emosi ini selanjutnya akan menentukan respon/reaksi kita.
Tadi saya mengatakan bahwa semua emosi adalah baik. Tidak ada emosi
yang negatip. Apa maksudnya? Anda mungkin heran dengan pernyataan
ini. Bukankah emosi "marah", "kecewa", "frustasi", dan sejenisnya
adalah emosi negatif?
Sebelum saya teruskan uraian saya, saya ingin bertanya kepada
anda, "Berapa banyak kosa kata, tentang emosi, yang anda kuasai?"
Banyaknya kosa kata yang anda kuasai, mengenai emosi, mencerminkan
kecerdasan emosi anda. Lho kok bisa? Umumnya orang hanya mengenal
beberapa kata yang mewakili emosi. Misalnya
kata "marah", "kecewa", "frustasi", atau "stres". Karena mereka hanya
menguasai beberapa kata saja maka setiap kali mengalami
emosi "negatif" maka mereka langsung berkata, "Saya lagi stres".
Singkat kata semua kondisi emosi dianggap stres. Benarkah demikian?
Ada banyak kata yang mewakili emosi. Misalnya sedih, stres, putus
asa, kecewa, marah, senang, bahagia, frustrasi, gembira, gelisah,
depresi, terluka, iri/dengki, kesepian, rasa bosan, takut, jengkel,
khawatir, cemas, rasa bersalah, tersinggung, dendam, sakit hati, rasa
tidak mampu, benci, perasaan tidak nyaman, bahagia, tersanjung, dan
cinta.
Lalu apa sih gunanya emosi? Emosi sebenarnya merupakan sinyal
komunikasi yang berasal dari pikiran bawah sadar. Setiap emosi
mempunyai makna dan tujuan yang sangat spesifik yang sangat
bermanfaat bagi diri kita. Namun sayang, tidak banyak orang yang
tahu, mau repot-repot untuk mencari tahu, atau benar-benar mengerti
makna yang terkandung dalam setiap emosi.
Misalnya emosi "marah". Mengapa kita marah? Marah berarti ada
pengharapan kita yang tidak terpenuhi atau kita merasa telah
diperlakukan secara tidak adil oleh orang lain.
Emosi menjadi sesuatu yang negatif bila kita tidak mampu mengartikan
pesan yang terkandung dalam emosi itu. Emosi berakibat negatif bila
kita dikuasai olehnya. Lalu bagaimana cara untuk bisa menguasa emosi
kita? Cara mudah. Kita perlu memahami bahwa pikiran logis dan emosi
tidak dapat aktif dalam waktu bersamaan. Salah satu pasti menguasai
yang lain.
Jadi, bila emosi yang dominan maka pikiran logis tidak dapat bekerja.
Demikian sebaliknya. Saat pikiran logis sedang aktif maka emosi
kehilangan daya pengaruhnya. Hal ini bisa terjadi karena perasaan
atau emosi sebenarnya adalah bentuk pikiran juga. Dengan mengubah
pikiran maka perasaan akan berubah.
Cara paling mudah untuk menguasai dan menghilangkan pengaruh negatip
suatu emosi adalah dengan melakukan analisa atau mencari tahu makna
yang terkandung dalam setiap emosi yang sedang anda rasakan.
Misalnya anda sangat marah. Daripada larut dalam kemarahan anda,
lakukan analisa. Hal ini memang tidak mudah. Namun anda harus
disiplin untuk memaksa diri anda melakukan analisa. Caranya? Tanyakan
kepada diri anda, "Mengapa saya marah?", "Apakah karena mood saya lagi nggak enak atau ada sebab lain?", strong>>"Apakah benar saya telah diperlakukan tidak adil oleh orang lain?", "Apakah benar emosi yang saya rasakan saat ini adalah emosi marah?", "Apakah saya telah memberikan makna yang tepat atas apa yang saya alami?", Apa yang saya bisa lakukan selain larut dalam kemarahan?"
Saat anda bertanya pada diri anda saat itu pula fokus anda mulai
beralih. Saat anda mencari jawaban atas pertanyaan anda saat itu pula
pikiran logis anda bekerja dan menjadi dominan. Bila anda sering
melakukan analisa terhadap perasaan anda maka anda akan semakin
mengenali diri anda dan akan timbul kebijaksanaan.
Bagaimana dengan emosi takut? Perasaan takut adalah suatu emosi yang
sangat positif. Apa maknanya? Emosi takut adalah sinyal komunikasi
yang dikirim pikiran bawah sadar ke pikiran sadar dengan pesan bahwa
akan terjadi sesuatu di masa depan, di mana anda merasa tidak siap
untuk menghadapinya. Dengan kata lain, emosi takut sebenarnya membawa
pesan "antisipasi".
Misalnya? Saat anda mau ujian skripsi. Anda merasa takut. Nah,
daripada hanya sekedar ketakutan, anda harus menyiapkan diri dengan
sungguh-sungguh. Anda takut karena anda merasa tidak siap. So...
siapkan diri anda dengan lebih baik. Sederhana, kan?
Bagaimana dengan emosi lainnya? Misalnya rasa bosan. Rasa bosan
artinya apa yang kita lakukan sekarang ini kurang menantang. Itulah
sebabnya kita bosan. Lalu, apa yang harus dilakukan? Kita perlu
menetapkan suatu target yang sedikit lebih tinggi dari biasanya
sehingga kita merasakan tantangan dan dorongan untuk lebih giat
bekerja.
So, berbahagialah bila anda yang merasakan up and down suatu emosi.
Anda akan semakin bijaksana karena mendapat pesan dari guru
kebijaksanaan.
Oh ya, satu hal lagi. Kalaupun anda tidak mau menganalisa atau tidak
tahu makna dari suatu emosi yang sedang anda rasakan, anda cukup
berdiam diri atau menahan diri untuk tidak menuruti emosi anda.
Mengapa? Karena emosi sama dengan pikiran. Sekarang muncul, selang
beberapa saat lagi akan menghilang. Muncul lagi, lalu hilang lagi.
Tulisan yang bagus banget ini saya dapat ketika searching di Google untuk mengetahui bagaimana cara mengatasi perasaan emosi, mudah tersinggung dan males. Dari beberapa tulisan, saya rasa tulisan ini paling mewakili solusi yang tepat yang dibahas secara logis dan rasional bagaimana caranya untuk mengatasi emosi (yang sering dialami oleh sebagian manusia termasuk saya :D).
Mudah-mudahan beberapa solusi bisa diatasi dengan menganalisa terlebih dahulu bentuk emosi yang sedang kita hadapi dengan cara sebagai berikut:
1. Mengapa saya marah?
2. Apakah mood saya sedang tidak enak atau ada hal lain?
3. Apakah benar emosi yang saya rasakan sekrang emosi marah?
4. Apakah saya telah memberikan makna yang tepat atas apa yang saya alamai?
5. Apakah yang bisa saya lakukan selain larut dalam kemarahan?
InsyaALLAH dengan Bila anda sering melakukan analisa terhadap perasaan anda maka anda akan semakin mengenali diri anda dan akan timbul kebijaksanaan.
Nah, itulah sekilas ulasan cara menghadapi emosi yang dibahas dari segi ilmu keduniaan, sedangkan cara lain sudah banyak Rasulullah contohkan dalam Qur'an Hadistnya kan, silahkan di deres-deres lagi :).
Minggu, 21 Juni 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar